Ikhtiar Merawat Kewarasan

Dari Dapur Santri untuk Peradaban

Nama “Terong Gosong” diambil nyaris tanpa filosofi yang muluk-muluk. Ia berangkat dari realitas sosiologis yang paling membumi di lingkungan pesantren: terong. Sepanjang sejarah santri, terong adalah menu paling populer, paling egaliter, dan paling setia menemani laku prihatin para penuntut ilmu.

Di pesantren, terong biasa dibakar hingga gosong kulitnya, dikupas, lalu dipecel dengan sambal terasi. Jadilah “sambal terong”. Sebuah hidangan yang sederhana, namun esensial.

Layaknya hidangan tersebut, situs web ini hadir sebagai asupan “gizi” harian yang renyah dan akrab. Jika sambal terong adalah lauk pengisi perut, maka Terong Gosong adalah lauk pengisi akal dan penenang hati yang diracik dengan bumbu humor khas pesantren.

Ketawa Secara Serius

Semboyan kami adalah: “Ketawa secara serius, bukan senda-gurau!”.

Mengapa? Meminjam penjelasan inisiator komunitas ini, KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), kalimat tersebut dipilih karena “kedengaran keren, dan lucu dalam cara yang tidak jelas.”

Namun lebih dari itu, humor bagi kami bukan sekadar badutan, melainkan sebuah strategi kebudayaan. Kami menggunakan kelakar dan parodi sebagai “jurus” untuk meredakan ketegangan dan mendekonstruksi kekakuan. Di sini, nilai-nilai luhur—seperti tawadhu’, kesetiakawanan, hingga bakti kepada orang tua—dibungkus dalam kemasan yang cair dan membumi. Tujuannya sederhana: menyentil tanpa menyakiti, menasihati tanpa menggurui, dan mengajak berpikir tanpa harus mengerutkan dahi.

Dari Media Sosial ke Arsip Digital

Komunitas ini bermula dari inisiatif kultural di jejaring sosial Facebook pada 13 Mei 2009. Niat awalnya sederhana: memanfaatkan teknologi untuk mendokumentasikan “budaya tutur” pesantren yang kaya akan kearifan namun perlahan mulai tergerus zaman.

Gus Yahya, yang tumbuh dalam tradisi kuat Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang dan berinteraksi intens dengan berbagai lapisan masyarakat, melihat perlunya sebuah wadah untuk merekam pernik-pernik kehidupan tersebut. Dedikasi ini ditujukan agar generasi santri masa kini tetap memiliki ikatan emosional dan mengenal sosok para kiai serta sesepuh mereka.

Seiring waktu, antusiasme ini berkembang pesat menjadi ribuan anggota di media sosial dan pertemuan darat (Kopdar) yang hangat di berbagai pesantren. Kini, melalui inisiatif Sofian J. Anom, Terong Gosong bertransformasi menjadi situs web mandiri. Platform ini diproyeksikan tidak hanya sebagai wahana silaturahmi, tetapi juga sebagai “rumah digital” bagi arsip pemikiran, humor, dan kisah-kisah hikmah tersebut agar dapat diakses secara lebih luas dan abadi.

Untuk Siapa Saja

Meskipun berangkat dari rahim pesantren, Terong Gosong adalah hidangan untuk semua. Nilai-nilai kemanusiaan, kearifan lokal, dan humor yang kami sajikan bersifat universal. Siapa pun, bahkan mereka yang belum pernah menginjakkan kaki di pesantren, diundang untuk duduk bersama, menikmati hidangan ini, dan tertawa—secara serius—bersama kami.