Untuk menetapkan langkah politik, Gus Dur biasa membuat kalkulasi rasional yang rumit. Tapi itu bukan satu-satunya pertimbangan. Gus Dur pun biasa mengecek hasil kalkulasinya dengan nasehat orang-orang waskita, yakni yang diyakininya sebagai golongan muqarrabin. Di antara yang ia cari dan ia perhatikan nasehatnya adalah Gus Miek, Kyai Hamim Jazuli.
Suatu kali, di sela maraton pengumpulan informasi dan penggalangan menjelang satu keputusan politik penting, Gus Dur menyempatkan diri memburu Gus Miek yang juga sedang dalam maraton Sema’an MANTAB.
“Bagaimana Indonesia ini, Gus?” Gus Dur bertanya kepada Gus Miek.
“Oh, insyaallah baik-baik saja, Gus. Semua beres. Tinggal dua saja yang belum beres!”
Gus Dur bergairah, siap menerima inspirasi jitu.
“Yang belum beres apa?”
“Saya sama sampeyan!”