Di sebuah desa santri, ada lurah baru yang kebetulan “kurang santri”. Pak Lurah nggak pernah ngaji atau mondok. Soal agama ia pelajari sendiri dari buku-buku terjemahan. Dalam sebuah acara pengajian, Pak Lurah memberi kata sambutan,
“Bapak-bapak, Ibu-ibu, setiap amal harus kita kerjakan dengan ihlas. Seperti doa yang selalu kita baca setiap salat: INNAA SHALATIWAA … NUSUKIWAAA ….”
Hadirin serentak tertawa, bertepuk tangan dan bersuit-suit. Dari barisan belakang ada yang teriak,
“Iftitah bahasa Jepang!”
Tapi teriakan itu tenggelam di tengah riuh-rendah sorakan. Pak Lurah tak mendengarnya, atau tak mengerti maksudnya. Ia teruskan saja pidatonya, hingga sampai ke dalil andalan yang telah disiapkannya,
“Kita harus ingat Firman Allah: INNAA KHALAQNAAKUM MIN DZAKAAAARIN WA UNTSAA ….”
Kang Parji, yang belum lama boyong dari pondok, tidak tahan mendengarnya dan langsung berdiri terus maju ke depan,
“Interupsi, Pak Lurah!” teriaknya keras-keras, “itu tadi dzakarnya kepanjangan!”