Munawar, pengurus pondok, tak mau kalah dari Waji. Ia ikut getol mencar-cari, sampai menemukan satu istilah yang menurutnya paling indah: “Melankolis”.
Munawar amat gembira dengan penemuannya itu dan benar-benar dipenuhi semangat untuk mempergunakannya sesering mungkin.
Ketika seorang gadis cantik lewat di depan pondok, Munawar berkomentar,
“Ck ck ck… gadis yang melankolis…”
Melihat santri yang dita’zir terbungkuk-bungkuk menguras WC, Munawar geleng-geleng kepala,
“Sungguh pekerjaan yang melankolis!”
Ketika jetikan ngawurnya kebetulan berhasil memasukkan buah karambol, Munawar bersorak gembira,
“Wuaahh! Pukulan yang melankolis!!”